Digitalisasi Itu Investasi atau Pemborosan?
Beberapa tahun lalu, saya pernah ada di fase bingung.
Kerja jalan.
Aktivitas ada.
Hari-hari sibuk.
Tapi rasanya… kok gitu-gitu aja.
Bangun pagi, kerja, pulang, tidur.
Besok ulang lagi.
Nggak jelek.
Tapi juga nggak ke mana-mana.
Kayak lari di treadmill.
Capek, tapi tetap di tempat.
Sampai akhirnya saya sadar satu hal sederhana:
mungkin saya bukan kurang kerja keras.
Saya cuma nggak punya arah.
Dan tanpa arah, sekeras apa pun kita jalan… ya tetap muter-muter.
Lucunya, makin dewasa saya lihat makin banyak orang kayak gini.
Kelihatannya sibuk banget.
Ikut banyak hal.
Kerja lembur.
Ambil project sana-sini.
Tapi waktu ditanya:
“Sebenarnya kamu mau ke mana?”
Diam.
Nggak tahu.
Atau jawabannya cuma:
“Ya jalanin aja dulu…”
Padahal “jalanin aja” itu sering kali bukan strategi.
Itu cuma… bertahan hidup.
Karena mimpi itu bukan soal muluk-muluk.
Bukan harus:
pengen jadi miliarder
pengen terkenal
pengen sukses besar
Nggak harus segitunya.
Mimpi itu cuma satu fungsi sederhana:
👉 ngasih arah.
Kayak GPS.
Kalau kamu nggak masukin tujuan,
mobil secanggih apa pun ya cuma muter-muter doang.
Habis bensin, capek, tapi nggak sampai mana-mana.
Hidup juga gitu.
Kalau nggak punya tujuan, akhirnya:
belajar terasa malas
kerja terasa beban
hari Senin terasa menyebalkan
gaji terasa “ya segini aja”
hidup terasa flat
Karena nggak ada sesuatu yang dikejar.
Nggak ada alasan buat bertahan waktu capek.
Nggak ada “kenapa” yang bikin kita tetap jalan.
Padahal sering kali, yang bikin orang kuat itu bukan skill.
Tapi alasan.
Waktu ketemu banyak fresh grad atau junior, polanya mirip.
Ada yang tanya:
“Mas, biar cepat sukses di IT gimana ya?”
Saya balik tanya:
“Kamu pengen jadi apa emangnya?”
Jawabannya:
“Belum tahu sih…”
Nah, ini masalahnya.
Kalau nggak tahu mau jadi apa:
mau belajar skill apa?
mau fokus ke mana?
mau pilih kerjaan seperti apa?
Akhirnya semua dicoba.
Tapi nggak ada yang dalam.
Semua disentuh.
Tapi nggak ada yang serius.
Bukan karena nggak mampu.
Tapi karena nggak ada arah.
Kadang kita takut bermimpi karena merasa:
“Nggak realistis.”
“Nanti kalau gagal gimana?”
“Ah, terlalu tinggi.”
Padahal mimpi nggak harus besar dulu.
Mulai kecil aja.
Misalnya:
pengen jadi developer yang jago backend
pengen kerja remote
pengen bantu UMKM pakai teknologi
pengen punya penghasilan sekian
pengen bangun software house sendiri
Sederhana.
Tapi jelas.
Dan begitu jelas, anehnya hidup jadi lebih ringan.
Karena setiap keputusan jadi punya arah.
Banyak orang nunggu motivasi dulu baru gerak.
Padahal seringnya kebalik.
Gerak dulu, baru motivasi datang.
Dan mimpi itu yang bikin kita berani ambil langkah pertama.
Tanpa mimpi, kita cuma nunggu.
Tanpa sadar, waktu lewat begitu aja.
Tiba-tiba umur nambah…
tapi posisi masih sama.
Itu yang paling nyesek.
Nggak perlu ribet.
Coba tanya diri sendiri pelan-pelan:
Saya sebenarnya mau hidup seperti apa?
5 tahun lagi mau ada di posisi mana?
Mau dikenal sebagai orang yang gimana?
Hal apa yang bikin saya semangat bangun pagi?
Tulis.
Nggak usah sempurna.
Karena mimpi itu boleh berubah.
Tapi nggak punya sama sekali… itu yang bahaya.
Hidup tanpa mimpi itu bukan berarti berhenti.
Kita tetap jalan.
Tapi tanpa arah.
Dan jalan tanpa arah itu capek.
Makanya, sebelum sibuk kerja keras,
mungkin kita perlu berhenti sebentar dan tanya:
“Sebenarnya saya mau ke mana?”
Karena pada akhirnya…
kalau seseorang tidak punya mimpi,
dia bukan tidak bisa berlari.
Dia cuma tidak tahu harus melangkah ke mana.
Komentar
Posting Komentar