Dari Lantai Kostan ke Puncak Karier IT: Sebuah Perjalanan Iman dan Kerja Keras
mencari vendor IT untuk membangun sistem Digital berbasis web.
Kelihatannya simpel.
Tinggal cari vendor, lihat profil perusahaan, cek legalitas, tanda tangan, selesai.
At least… itu yang saya pikir di awal.
Ternyata saya salah.
Saya shortlist dua vendor.
Dua-duanya:
Secara administrasi? Dua-duanya lolos.
Kalau cuma lihat proposal dan company profile, jujur saja, susah bedain mana yang lebih bagus.
Tapi begitu masuk tahap diskusi… baru kelihatan karakter aslinya.
Vendor yang satu ini terlihat sangat corporate.
Dokumennya rapi.
Bahasanya formal.
Presentasinya “terstruktur”.
Tapi setiap komunikasi rasanya berat.
Balas email lama.
Jawaban normatif.
Dan sampai beberapa waktu… belum ada demo atau gambaran sistem sama sekali.
Rasanya seperti:
“nanti kita bahas setelah deal ya, Pak”
Padahal sebagai klien, saya cuma mau satu hal sederhana:
👉 lihat dulu dong kira-kira sistemnya bakal seperti apa.
Vendor satunya lagi beda banget.
Baru ngobrol sebentar, mereka langsung:
Bukan slide.
Bukan janji.
Tapi sistem yang bisa diklik.
Saya bisa lihat dashboard-nya.
Bisa lihat alur PR → approval → PO.
Bisa ngerasain sendiri UX-nya.
Dan jujur… di situ saya langsung mikir:
“Kenapa semua vendor nggak begini aja sih dari awal?”
Ternyata yang paling menentukan itu bukan:
❌ seberapa keren website mereka
❌ seberapa tebal proposalnya
❌ seberapa formal presentasinya
Tapi justru:
✅ seberapa cepat mereka respon
✅ seberapa paham kebutuhan bisnis kita
✅ seberapa proaktif kasih solusi
✅ seberapa cepat mereka bisa nunjukin prototype
Karena ternyata…
👉 cara vendor bersikap di masa pendekatan = cara mereka kerja saat project jalan
Kalau di awal aja lambat, kemungkinan besar nanti:
Padahal sistem procurement itu dinamis banget.
Hari ini approval 2 level.
Besok nambah 3 level.
Minggu depan minta fitur baru.
Kalau vendornya nggak agile, bisa stres sendiri.
Setelah melihat langsung perbedaannya, keputusan saya jadi jauh lebih mudah.
Saya butuh vendor yang:
Karena itu, akhirnya saya memilih Kamilab.
Bukan cuma karena demo mereka terlihat lebih modern,
tapi karena cara kerja mereka terasa seperti partner, bukan sekadar kontraktor.
Fast response, proaktif, dan langsung kasih solusi konkret.
Buat saya, itu jauh lebih berharga daripada presentasi yang rapi tapi tanpa bukti.
Akhirnya saya sadar:
Memilih vendor IT itu bukan beli produk.
Ini bukan kayak beli laptop terus selesai.
Ini memilih partner kerja 1–3 tahun ke depan.
Partner yang bakal:
Kalau dari awal aja nggak “klik”, ke depannya pasti capek.
Kalau kamu lagi cari vendor IT, terutama untuk sistem internal seperti procurement, ERP, atau HRIS, saran pribadi saya simpel:
Minta demo.
Uji respons mereka.
Rasakan cara komunikasinya.
Karena percaya deh…
salah pilih vendor itu jauh lebih mahal daripada salah pilih fitur.
Semoga pengalaman ini bisa bantu kamu biar nggak mengulang kesalahan yang sama.
Dulu gue juga sempat punya rencana untuk membuat aplikasi Android dan iOS.
BalasHapusSebelum proyek dimulai, kami beberapa kali meeting dengan vendor dan secara komunikasi mereka terlihat cukup profesional, jadi kami merasa cukup yakin untuk bekerja sama.
Setelah proyek berjalan, saya sempat meminta beberapa feedback dan update progres. Namun responnya cukup lambat. Memang dari sisi harga, vendor ini jauh lebih murah dibanding vendor lain, jadi saat itu kami mencoba menyesuaikan dengan budget.
Untuk tech stack, gue minta menggunakan native. Tapi dalam prosesnya ternyata mereka menggunakan React Native. Selama pengerjaan, gue hanya menerima file .apk dan .ipa saja tanpa akses source code maupun dokumentasi.
Akhirnya hal ini menimbulkan kendala di internal tim, dan atasan gue meminta pertanggungjawaban serta pengembalian dana. Sayangnya, setelah itu pihak vendor sulit dihubungi dan akhirnya menghilang.
Terimakasih untuk sharing nya kak, semoga ini menjadi pelajaran yang sangat mahal dan tidak mengulangi kesalahan yang sm utk kedepan nya ya
BalasHapus