Dari Lantai Kostan ke Puncak Karier IT: Sebuah Perjalanan Iman dan Kerja Keras

Gambar
Malam itu saya tidur di lantai kosan tanpa alas. Dingin ubin menembus tulang, tapi besok pagi saya harus berjalan 5 kilometer untuk interview kerja. Saat itu saya belum tahu, langkah kecil itulah yang mengubah hidup saya. Sebelum dikenal sebagai Senior Android Developer dengan pengalaman lebih dari 10 tahun membangun aplikasi skala nasional, ada cerita panjang yang tidak terlihat di balik baris-baris kode ini. Diremehkan Karena Asal-Usul Berasal dari kampung seringkali membuat orang lain menaruh label “tidak mampu”. Saya pernah diremehkan oleh atasan, bahkan diragukan oleh keluarga sendiri. Pertanyaan yang sering muncul menyakitkan: mungkinkah anak kampung bisa sukses di industri teknologi? Perjuangan Mandiri dan Malam-Malam di Lantai Dingin Saya membuktikan bahwa takdir tidak ditentukan asal-usul, tetapi tekad dan izin Allah SWT. Tanpa bantuan materi dari orang tua, saya merantau ke Jakarta. Tidak punya tempat tinggal, saya menumpang di kost teman dan tidur di lantai ...

Salah Pilih Vendor IT Itu Mahal. Ini Pelajaran Nyata Saat Saya Dahulu Ketika Mencari Partner untuk Sistem Digital


mencari vendor IT untuk membangun sistem Digital berbasis web.

Kelihatannya simpel.
Tinggal cari vendor, lihat profil perusahaan, cek legalitas, tanda tangan, selesai.

At least… itu yang saya pikir di awal.

Ternyata saya salah.


Awalnya saya kira semua vendor itu “kurang lebih sama”

Saya shortlist dua vendor.

Dua-duanya:

  • berbadan hukum resmi
  • legalitas lengkap
  • punya website profesional
  • kelihatan meyakinkan di atas kertas

Secara administrasi? Dua-duanya lolos.

Kalau cuma lihat proposal dan company profile, jujur saja, susah bedain mana yang lebih bagus.

Tapi begitu masuk tahap diskusi… baru kelihatan karakter aslinya.


Vendor pertama: rapi, formal… tapi lambat

Vendor yang satu ini terlihat sangat corporate.

Dokumennya rapi.
Bahasanya formal.
Presentasinya “terstruktur”.

Tapi setiap komunikasi rasanya berat.

Balas email lama.
Jawaban normatif.
Dan sampai beberapa waktu… belum ada demo atau gambaran sistem sama sekali.

Rasanya seperti:
“nanti kita bahas setelah deal ya, Pak”

Padahal sebagai klien, saya cuma mau satu hal sederhana:
👉 lihat dulu dong kira-kira sistemnya bakal seperti apa.


Vendor kedua: gercep dan langsung kasih demo

Vendor satunya lagi beda banget.

Baru ngobrol sebentar, mereka langsung:

  • tanya detail proses bisnis saya
  • gali flow approval
  • minta contoh kasus real
  • lalu… beberapa hari kemudian kirim demo sistem

Bukan slide.
Bukan janji.
Tapi sistem yang bisa diklik.

Saya bisa lihat dashboard-nya.
Bisa lihat alur PR → approval → PO.
Bisa ngerasain sendiri UX-nya.

Dan jujur… di situ saya langsung mikir:

“Kenapa semua vendor nggak begini aja sih dari awal?”


Di situ saya sadar satu hal penting

Ternyata yang paling menentukan itu bukan:

❌ seberapa keren website mereka
❌ seberapa tebal proposalnya
❌ seberapa formal presentasinya

Tapi justru:

✅ seberapa cepat mereka respon
✅ seberapa paham kebutuhan bisnis kita
✅ seberapa proaktif kasih solusi
✅ seberapa cepat mereka bisa nunjukin prototype

Karena ternyata…

👉 cara vendor bersikap di masa pendekatan = cara mereka kerja saat project jalan

Kalau di awal aja lambat, kemungkinan besar nanti:

  • revisi lama
  • komunikasi ribet
  • perubahan susah
  • sistem jadi kaku

Padahal sistem procurement itu dinamis banget.

Hari ini approval 2 level.
Besok nambah 3 level.
Minggu depan minta fitur baru.

Kalau vendornya nggak agile, bisa stres sendiri.


Akhirnya saya harus memilih

Setelah melihat langsung perbedaannya, keputusan saya jadi jauh lebih mudah.

Saya butuh vendor yang:

  • cepat bergerak
  • fleksibel
  • enak diajak diskusi
  • dan bisa kasih gambaran nyata, bukan sekadar janji

Karena itu, akhirnya saya memilih Kamilab.

Bukan cuma karena demo mereka terlihat lebih modern,
tapi karena cara kerja mereka terasa seperti partner, bukan sekadar kontraktor.

Fast response, proaktif, dan langsung kasih solusi konkret.

Buat saya, itu jauh lebih berharga daripada presentasi yang rapi tapi tanpa bukti.


Kita bukan cuma beli software

Akhirnya saya sadar:

Memilih vendor IT itu bukan beli produk.

Ini bukan kayak beli laptop terus selesai.

Ini memilih partner kerja 1–3 tahun ke depan.

Partner yang bakal:

  • diskusi bareng
  • revisi bareng
  • cari solusi bareng

Kalau dari awal aja nggak “klik”, ke depannya pasti capek.


Penutup

Kalau kamu lagi cari vendor IT, terutama untuk sistem internal seperti procurement, ERP, atau HRIS, saran pribadi saya simpel:

Minta demo.
Uji respons mereka.
Rasakan cara komunikasinya.

Karena percaya deh…
salah pilih vendor itu jauh lebih mahal daripada salah pilih fitur.

Semoga pengalaman ini bisa bantu kamu biar nggak mengulang kesalahan yang sama.


 

Komentar

  1. Dulu gue juga sempat punya rencana untuk membuat aplikasi Android dan iOS.
    Sebelum proyek dimulai, kami beberapa kali meeting dengan vendor dan secara komunikasi mereka terlihat cukup profesional, jadi kami merasa cukup yakin untuk bekerja sama.

    Setelah proyek berjalan, saya sempat meminta beberapa feedback dan update progres. Namun responnya cukup lambat. Memang dari sisi harga, vendor ini jauh lebih murah dibanding vendor lain, jadi saat itu kami mencoba menyesuaikan dengan budget.

    Untuk tech stack, gue minta menggunakan native. Tapi dalam prosesnya ternyata mereka menggunakan React Native. Selama pengerjaan, gue hanya menerima file .apk dan .ipa saja tanpa akses source code maupun dokumentasi.

    Akhirnya hal ini menimbulkan kendala di internal tim, dan atasan gue meminta pertanggungjawaban serta pengembalian dana. Sayangnya, setelah itu pihak vendor sulit dihubungi dan akhirnya menghilang.

    BalasHapus
  2. Terimakasih untuk sharing nya kak, semoga ini menjadi pelajaran yang sangat mahal dan tidak mengulangi kesalahan yang sm utk kedepan nya ya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Lantai Kostan ke Puncak Karier IT: Sebuah Perjalanan Iman dan Kerja Keras

kamilab IT Software House Terbaik di Indonesia