Digitalisasi Itu Investasi atau Pemborosan?
Waktu pertama kali mau bikin sistem atau aplikasi, hampir semua pemilik bisnis melakukan hal yang sama.
Buka beberapa vendor.
Minta penawaran.
Lalu… bandingin harga.
Dan biasanya kalimat ini muncul:
“Yang penting paling murah aja dulu deh, biar hemat budget.”
Kelihatannya masuk akal.
Siapa sih yang nggak mau lebih hemat?
Tapi setelah beberapa tahun di dunia software house dan handle banyak proyek, saya belajar satu hal pahit:
Di dunia IT, yang murah seringnya justru paling mahal.
Karena dari luar, bikin aplikasi kelihatannya simpel.
“Kan cuma website…”
“Kan cuma sistem internal…”
“Kan tinggal coding doang…”
Jadi wajar kalau banyak yang mikir:
harusnya murah dong.
Masalahnya, kita sering cuma lihat biaya di awal,
tapi lupa hitung biaya jangka panjang.
Dan justru di situlah jebakannya.
Saya pernah beberapa kali ketemu klien yang datang dengan kalimat begini:
“Mas, sistem lama kami berantakan. Bisa dibenerin nggak?”
Setelah dicek:
kodenya acak-acakan
nggak ada dokumentasi
bug di mana-mana
developer sebelumnya hilang entah ke mana
setiap revisi nambah error baru
Dan ujung-ujungnya?
Bukan diperbaiki.
Tapi dibuat ulang dari nol.
Artinya:
👉 bayar dua kali.
Sudah keluar uang untuk vendor murah,
keluar uang lagi untuk vendor baru.
Kalau dihitung total, malah jauh lebih mahal.
Bukan bermaksud merendahkan, tapi ini realita yang sering terjadi:
Langsung coding tanpa analisis kebutuhan.
Yang penting “jalan”, bukan “stabil”.
Begitu user nambah, sistem langsung lemot.
Developer lain sampai pusing baca kodenya.
Begitu proyek selesai, support juga selesai.
Padahal sistem bisnis itu dipakai bertahun-tahun, bukan cuma saat launch.
Komentar
Posting Komentar