Digitalisasi Itu Investasi atau Pemborosan?
Banyak orang melihat karier saya hari ini— di praktisi IT dengan pengalaman lebih dari satu dekade—sebagai hasil dari kemampuan teknis semata.
Padahal, di balik setiap baris kode yang saya tulis untuk aplikasi skala nasional seperti R*T*+, D**p*tk*, hingga E***t*ri, ada doa Ibu, doa Istri, dan sujud di sepertiga malam.
Tanpa tiga hal itu, mungkin saya tidak akan sampai di titik ini.
Dulu, ketika saya diremehkan karena berasal dari kampung dan dianggap tidak punya masa depan, doa Ibu adalah perisai terkuat saya.
Saat orang lain meragukan kemampuan saya—bahkan keluarga sendiri—Ibu justru tak pernah berhenti melangitkan harapan agar anaknya berhasil di perantauan.
Saya berangkat ke Jakarta tanpa bantuan materi dari orang tua. Berjalan kaki sejauh 5 kilometer untuk interview, dengan perut kosong, adalah hal yang biasa saya jalani.
Namun setiap langkah terasa ringan, karena saya yakin ada doa tulus Ibu yang mengiringi.
“Tiga doa yang dikabulkan tanpa keraguan: doa orang tua, doa musafir, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Abu Daud)
Perjalanan karier tidak selalu naik. Ada masa jatuh, lelah, dan hampir menyerah.
Dari seorang developer hingga dipercaya menjadi IT Manager, dukungan istri adalah ketenangan di tengah badai.
Ia melihat saya bukan saat sudah berhasil, tapi justru saat paling terpuruk—saat masih menumpang tidur di lantai kosan tanpa alas apa pun.
Bagi saya, istri adalah perwujudan doa agar keluarga menjadi qurrota a’yun, penyejuk mata.
Sebagai seorang engineer, saya terbiasa berpikir logis. Namun hidup tidak selalu bisa diselesaikan dengan logika.
Di saat masalah terasa buntu, saya kembali ke satu tempat: sujud di sepertiga malam.
“Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu...” (QS. Al-Isra: 79)
Di Tahajud, saya hanyalah hamba yang meminta pertolongan. Dan selalu ada jalan keluar setelahnya.
Dunia digital memang penting. Teknologi memang kuat. Namun hubungan dengan Sang Pencipta jauh lebih menentukan.
Bukan hanya skill yang mengantarkan kita ke puncak, tapi doa yang menjaga kita tetap berdiri.
Komentar
Posting Komentar